TUJUAN
AL-QIA’AN
DITURUNKAN
Allah telah memuliakan kita kaum
muslimin dengan menurunkan sebaik-baik kitab iaitu al-Quran sepertimana Allah
memuliakan kita dengan mengutuskan sebaik-baik rasul. Kaum muslimin adalah
satu-satunya umat yang mempunyai perutusan dari langit yang terpelihara
daripada penyelewangan dan kebatilan. Perkara ini disebabkan kerana Allah
sendiri yang memeliharanya. Firman Allah yang bermaksud : "Sesungguhnya
Kami yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya kami yang memeliharanya."
(Al-Hajr, ayat 9)
Al-Quran adalah cahaya yang
menerangi hati-hati manusia ke arah jalan kebaikan dan kebajikan. Antara
ciri-ciri dan keistimewaan al-Quran adalah pertama, ia merupakan kitab ilahi
iaitu datangnya dari Allah yang tidak ada keraguan padanya. Allah
menurunkan al-Quran melalui Malaikat Jibrail. Firman Allah yang bermaksud
: " Suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan
secara teperinci yang diturunkan di sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi maha
Mengetahui." (Hud, ayat 1)
وَأَنزَلْنَا
إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ
الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّـهُ ۖ وَلَا
تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ
جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّـهُ
لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا
آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّـهِ مَرْجِعُكُمْ
جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
”Dan Kami turunkan kepadamu (wahai
Muhammad) Kitab (Al-Quran) dengan membawa kebenaran, untuk mengesahkan
benarnya Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan sebelumnya dan untuk memelihara
serta mengawasinya. Maka jalankanlah hukum di antara mereka (Ahli Kitab) itu
dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah (kepadamu), dan janganlah engkau
mengikut kehendak hawa nafsu mereka (dengan menyeleweng) dari apa yang telah
datang kepadamu dari kebenaran. Bagi tiap-tiap umat yang ada di antara kamu,
Kami jadikan (tetapkan) suatu Syariat dan jalan ugama (yang wajib diikuti oleh
masing-masing). Dan kalau Allah menghendaki nescaya Ia menjadikan kamu satu
umat (yang bersatu dalam ugama yang satu), tetapi Ia hendak menguji kamu (dalam
menjalankan) apa yang telah disampaikan kepada kamu. Oleh itu berlumba-lumbalah
kamu membuat kebaikan (beriman dan beramal soleh). Kepada Allah jualah tempat
kembali kamu semuanya, maka Ia akan memberitahu kamu apa yang kamu berselisihan
padanya.”
(Surah Al-Maidah 5: Ayat 48)
(Surah Al-Maidah 5: Ayat 48)
Al-Qur’an Sebagai Petunjuk Hidu
Pada zaman modern ini mushaf
al-Qur’an telah dicetak di seluruh dunia beserta terjemahannya dalam berbagai
bahasa. Namun, sangat disayangkan banyak orang belum mampu memahami maksud
Allah menurunkan al-Qur’an. Sehingga fakta menunjukkan bahwa mushaf al-Qur’an hanya
menjadi asesoris rumah tangga saja, atau hanya dibaca saja dan sebagian
menghafalnya dengan baik. Hal tersebut tidak jelek karena telah ada kepedulian
terhadap al-Qur’an.
Akan tetapi kepedulian terhadap al-Qur’an tidak
boleh berhenti pada batas tersebut, karena maksud Allah menurunkan al-Qur’an
adalah sebagai petunjuk bagi manusia, membenarkan penyelewengan isi dari kitab
suci sebelumnya dan membedakan gagasan yang benar dengan gagasan yang salah.
Sebagaimana dinyatakan Allah dalam surah al-Baqarah (2) ayat 185 :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
(Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan berisi penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk yang telah ada (dalam kitab suci sebelumnya) dan pembeda (antara gagasan yang benar dengan gagasan yang salah).
Memang Allah menciptakan manusia dan menyempurnakan penciptaanNya dan sekaligus membuat ketentuan-ketentuannya serta memberikan petunjuk bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan dunianya dan kehidupan alam kuburnya serta akhiratnya. Sebagaimana dinyatakan Allah dalam surah al-A’la (87) ayat 1-3 :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
(Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan berisi penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk yang telah ada (dalam kitab suci sebelumnya) dan pembeda (antara gagasan yang benar dengan gagasan yang salah).
Memang Allah menciptakan manusia dan menyempurnakan penciptaanNya dan sekaligus membuat ketentuan-ketentuannya serta memberikan petunjuk bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan dunianya dan kehidupan alam kuburnya serta akhiratnya. Sebagaimana dinyatakan Allah dalam surah al-A’la (87) ayat 1-3 :
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى(1) الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى(2) وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى(3)
(Sucikanlah nama Tuhanmu Yang
Maha Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaanNya), dan yang
menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk).
Jika tujuan al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, maka seharusnya para wisudawan hari ini tidak boleh merasa puas ketika telah mengajarkan cara membaca al-Qur’an dan menghafalkannya. Karena jika berhenti di sini saja, maka tujuan diturunkan al-Qur’an tidak akan tercapai sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupannya.
Jika tujuan al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, maka seharusnya para wisudawan hari ini tidak boleh merasa puas ketika telah mengajarkan cara membaca al-Qur’an dan menghafalkannya. Karena jika berhenti di sini saja, maka tujuan diturunkan al-Qur’an tidak akan tercapai sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupannya.
Memang seseorang yang akan
memahami al-Qur’an tidak mungkin tanpa membaca al-Qur’an terlebih dahulu,
begitu juga seseorang tidak mungkin dapat mempraktekkan al-Qur’an tanpa
memahami al-Qur’an terlebih dahulu. Oleh karena itu, tiga kata membaca,
memahami dan mempraktekkan isinya tidak dapat dipisahkan.
Kalau kita membaca petunjuk
pemakaian obat, maka tentunya dituntut memahaminya dan jika sudah memahaminya
dituntut melaksanakan petunjuk tersebut. Jika kita hanya membaca saja, tentu
tidak sesuai maksud penulisnya, begitu juga ketika kita puas hanya memahaminya
tanpa melaksanakan petunjuk tersebut kita akan overdosis, maka bukan kesembuhan
yang didapat, tetapi makin parah sakitnya bahkan mungkin saja mengantarkan
orang yang meminumnya ke alam kubur.
Allah memberikan perumpamaan bagi
orang-orang yang membaca al-Qur’an, namun tidak mau menggunakan petunjuknya,
berarti ia tidak lebih cerdas dari sebuah gunung. Karena seandainya al-Qur’an
diturunkan kepada gunung tentu gunung itu akan tunduk dan melaksanakan
sepenuhnya petunjuk al-Qur’an dikarenakan takut kepada Allah. Perumpamaan
tersebut digambarkan dalam surah al-Hasyr (59) ayat 21 :
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
(Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah (melaksanakan isi al-Qur’an) disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir).
Sesungguhnya Al Qur’an diturunkan tidak lain kecuali untuk
suatu tujuan yang agung yaitu sebagai pelajaran dan hukum. Adapun pada saat
ini, banyak manusia yang meninggalkan kitab yang agung ini, tidak mengenalnya
kecuali hanya pada saat-saat tertentu saja, “Diantara mereka ada yang hanya
membaca saat ada kematian, diantara mereka ada yang hanya menjadikannya sebagai
jimat dan diantara mereka ada yang hanya mengenalnya pada saat bulan Ramadhan
saja.”
Memang benar bahwa bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur’an,
kita dianjurkan agar memperbanyak membaca Al Qur’an pada bulan ini. Namun tidak
sepantasnya seorang muslim berpaling dari kitab yang mulia ini di luar bulan
Ramadhan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan keutamaan yang
begitu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Menerima Kritik Dan Saran