Translate

Kamis, 11 Oktober 2012

FAHAM DINAMISME ISLAM MENURUT PEMIKIRAN MUHAMMAD IQBAL


A.    Biografi Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal dilahirkan pada tanggal 3 Dzulqaidah 1294 H/ 9 November 1877 M di Sialkot, salah satu kota tertua bersejarah di perbatasan Punjab Barat dan Kashmir. Ia berasal dari keluarga miskin, akan tetapi dengan bantuan beasiswa yang diperolehnya ia mendapat pendidikan yang lebih bagus. Nenek moyangnya berasal dari keturunan golongan Brahmana yang berasal dari Kashmir yang telah menganut agama Islam kira-kira tiga abad sebelum Iqbal lahir. Ayahnya bernama Muhammad Nur, seorang sufi yang salih. Sejak menginjak usia anak-anak, agama sudah tertanam dalam jiwanya. Pendidikan agamanya selain dari orang tuanya, juga didapatkan dengan mengaji kepada Miss Hassan. Di rumah sang guru ini, ia selain belajar mengaji agama juga belajar menggubah sajak.
Pendidikan Iqbal bermula di Scottish Mission School di Sialkot. Di sekolah inilah ia mendapat bimbingan secara intensif dari Mir Hassan, seorang guru dan sastrawan yang ahli tentang sastra Persia dan menguasai bahasa Arab. Setelah lulus dari sekolah ini, Iqbal melanjutkan studinya lagi ke Lahore di government college yang diasuh oleh Sir Thomas Arnold. Pada tahun 1899 ia mendapat gelar MA dengan konsentrasi di bidang tasawuf, yang kemudian ia diangkat langsung menjadi dosen bahasa Arab di Oriental College, Lahore. Selepas dari Goverment College, ia atas saran Thomas Arnold meneruskan lagi ke Universitas Cambridge, London. Bidang yang ia tekuni yaitu filsafat moral. Ia mendapat bimbingan dari Jamest Ward dan seorang Neo Hegellian yaitu JE. Mac Taggart.
Ketika di Eropa Ia juga belajar di Universitas Munich, Jerman. Ia mendapat gelar Doktor dengan desertasof Methaphysies In Persia  pada tanggal 4 November 1907 di bawah bimbingan F. Homen. Selepas studinya di Eropa, ia kembali lagi kuliah di School of Political Sciences. Setelah mendapat gelar Doktor ia kembali lagi ke Lahore dan bekerja sebagai pengacara di High Cort, Punjab Lahore. Namun, kemudian dilepaskannya karena ia aktif di dalam praktek hukum.
Semasa kuliah, ia sering mengunjungi dan berdialog dengan sejumlah filosof besar sezamannya. Dan selama di Eropa, ia dapat menyaring secara kritis pemikiran-pemikiran Barat yang membuatnya tidak hanyut ke dalam pusaran peradaban Barat. Berbekal dari sejumlah keahlian, ia memulai karirnya sebagai dosen dan pengacara di India. Ia juga aktif dalam masalah politik. Selebihnya, ia sering memberikan ceramah ke seluruh bagian negara India dan bahkan ke negara-negara Islam. Tentu saja di sini disertai pembacaan sajak yang sempat menggugah dan membangkitkan semangat tinggi atas cita-cita ajaran Islam. Selain itu ia juga sangat produktif dalam hal menulis terutama yang berbentuk lirik puisi.
Dari ilustrasi singkat di atas, dapat kita fahami bahwa Iqbal merupakan salah seorang pemikir Islam yang memiliki cakrawala pemikiran dan intelegensia yang luar biasa. Ia selain dikenal sebagai seorang filosof, politikus, dan spiritual, ternyata juga dikenal sebagai seorang penyair. Dan bakat yang terakhir inilah, yaitu sebagai seorang penyair, merupakan suatu bakat alam yang tidak banyak dimiliki oleh para pemikir Muslim yang lainnya. Ia meninggal dunia pada tahun 1938 tepatnya berumur 62 tahun.

B.     Karya dan pemikiran Muhammad Iqbal
Agak sulit memetakan Iqbal sebagai seorang filosuf murni dibanding dengan filosuf lainnya. Hal ini disebabkan ia lebih fokus pada sastra dan politik dibanding kajian filsafat. Tak heran, kalau Iqbal dikenal sebagai penyair politisi dalam kasus kemerdekaan bangsa India dari Inggris. Meskipun demikian, secara khusus Iqbal menulis kajian filsafat dalam bukunya dengan tema “The Philosophical Test of the Revelations of Religious Experience”. Dalam topic ini, tampak teori Iqbal tentang filsafat dalam bentuk teori dinamika. Pemikiran Iqbal ini didasari dari berbagai teori ilmu alam yang telah disampaikan oleh para tokoh dunia sebelumnya, seperti Einstein, Newton, dan sebagainya. Sehingga Iqbal berkesimpulan bahwa dunia (pemikiran) ini adalah dinamis.
Lebih lanjut Iqbal menjelaskan pentingnya arti dinamika dalam hidup. Tujuan akhir setiap manusia adalah hidup, keagungan, kekuatan dan kegairahan. Teori dinamika Iqbal ini diawali dengan kesadaran sendiri bahwa kita ini harus bangkit dari keterpurukan. Konsep sendiri inilah yang menjadi dasar teori dinamika Iqbal.[2]
Iqbal mewariskan banyak karya tulis, berbentuk prosa, puisi, jawaban atas tanggapan orang atau kata pengantar bagi karya orang lain. Kebanyakan karya-karya ini menggunakan bahasa Persia, menurut Nicholson, agar bisa di akses oleh dunia Islam, tidak hanya masyarakat India. Sebab saat itu, bahasa Persi adalah bahasa yang dominan di dunia Islam dan dipakai masyarakat terpelajar. Karya-karyanya antara lain.[3]
Ø  The Development of Metaphysic in Persia (desertasi, terbit di London, 1908)
Ø  Asra-I Khudi (Lahore, 1916)
Ø  Rumuz I-Bukhudi (Lahore, 1918)
Ø  Javid Nama (Lahore, 1932)
Ø  The Reconstruction of Religius Thought in Islam (London, 1934)
Ø  Musafir (Lahore, 1936)
Ø  Zarb-I Kalim (Lahore, 1937)

C.    Faham dinamisme pemikiran Muhammad Iqbal
Sebagaimana para pemikir Muslim lainnya, M. Iqbal merupakan salah seorang pemikir Muslim yang agresif yang secara tegas mengkritik keras-keras munculnya stagnasi pemikiran Islam di kalangan umat Islam. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya sikap umat Islam yang taqlid secara totalistik akibat adanya asumsi ditutupnya pintu ijtihad. Ijtihad yang seharusnya dijadikan sebagai paradigma berpikir di dalam mengembangkan cakrawala pemikiran, justru difahami sebagai suatu hal yang terlalu berani dan bebas dalam menggunakan rasionalitas akal manusia.
Menanggapi masalah ini, menurut M. Iqbal paling tidak ada tiga hal yang menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran dan keterbelakangan dibanding dengan Barat. Pertama, adanya mistisme asketik yang terlalu berlebihan. Menurutnya, mistisisme asketik sangat memperhatikan kepada Tuhan dan hal-hal metafisis lainnya. Hal ini telah membawa umat Islam kurang mementingkan persoalan keduniawian (profanitas) dan kemasyarakatan dalam Islam. Kedua, hilangnya semangat induktif. Menurutnya, semangat Islam pada dasarnya menekankan pada aspek kehidupan yang konkrit yang senantiasa berubah dan berkembang. Oleh sebab itu selama umat Islam setia terhadap semangat mereka sendiri dan menempuh cara-cara induktif dan empirik dalam penelitian sebagaimana pada masa kejayaan Islam, mereka terus maju dalam melakukan penemuan demi penemuan di bidang ilmu pengetahuan. Ketiga, adanya otoritas perundang-undangan secara totalitas yang melumpuhkan perkembangan pribadi dan menyebabkan hukum Islam praktis tidak bisa bergerak sama sekali. Menurutnya, meskipun semua orang Sunni menerima ijtihad sebagai alat perubahan dan kemajuan, namun dalam prakteknya prinsip tersebut dipagari dengan banyaknya persyaratan yang terlalu berat. Sehingga sedikit sekali mereka yang dapat melakukannya. Dengan demikian, maka kekuatan ijtihad yang semula dimaksudkan untuk meliberalisasikan Islam tidak bisa bekerja, dan keluwesan Islam menjadi kekakuan.
Untuk mengatasi kondisi semacam ini, maka umat Islam harus mempunyai suatu filsafat hidup yang dapat membangkitkan mereka dari tidurnya dan membuka mata mereka bagi suatu pandangan yang lebih cerah dan lebih progresif. Dengan menganjurkan untuk mengambil sikap dinamis masyarakat Barat, Iqbal mengatakan bahwa al-Qur’an merupakan sebuah kitab suci yang menekankan pada perbuatan, bukannya pada gagasan. Statement inilah yang merupakan tema pertama dari karyanya yang berjudul “The Reconstruction of Relegious Thought in Islam” dan bahkan merupakan tema pokok dalam pemikiran M. Iqbal.
Masih menurut M. Iqbal, Islam pada hakekatnya menganjurkan dinamisme. Al-Qur’an senantiasa menganjurkan pemakaian akal di dalam menginterpretasikan ayat ataupun tanda yang ada dalam alam semesta, sebagaimana adanya rotasi bumi, matahari, dan bulan. Orang-orang yang tidak peduli dan tidak memperhatikan tanda-tanda tersebut akan buta terhadap masa yang akan datang. Konsep Islam tentang alam adalah dinamis dan senantiasa berkembang. Islam menolak konsep lama yang menyatakan bahwa alam itu statis, dan mempertahankan konsep dinamisme serta menengahi adanya gerak dan perubahan dalam kehidupan sosial. Prinsip yang dipakai dalam gerak tersebut adalah ijtihad. Ijtihad mempunyai kedudukan penting dalam pembaharuan Islam.
Paham dinamisme yang dilontarkan Iqbal tertuang dalam syair-syairnya yang selalu mendorong manusia agar senantiasa bergerak dan tidak tinggal diam. Intisari hidup adalah gerak, sedang hukum hidup adalah mencipta. Maka Iqbal menyerukan kepada umat Islam agar membangun dan mencipta dunia baru. Untuk mengembalikan semangat masyarakat sesuai dengan konsep Islam tersebut, Iqbal mengkritik hasil filsafat Plato dan Neo-Platonisme yang dianut dan berkembang di masyarakat Islam menjadi aliran tasawuf. Iqbal mengkritik faham Panteisme yang mempercayai adanya wahdah al-wujud. Faham ini menurutnya mendorong manusia menjauhkan diri dari persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan hidup. Karena hidup ini dianggap suatu khayalan sehingga tidak ada yang harus diperjuangkan. Hal inilah yang menyebabkan kejumudan umat Islam.
Dalam rangka mengatasi kejumudan di atas, Iqbal menawarkan sebuah diagnosis dengan menyatakan bahwa intelektualisme harus dibenarkan sesuai dengan semangat al-Qur’an. Al-Qur’an menyatakan bahwa sumber pengetahuan adalah alam, sejarah dan diri. Di dalam diri terdapat tiga sumber lagi yaitu serapan inderawi, rasio, dan intuisi. Ketiga sumber terakhir ini sekaligus sebagai penimba dan pengolahan bahan baku pengetahuan agar seseorang menjadi tahu.
Sebagai seorang pemikir dan sufi, Iqbal mempunyai konsep manusia ideal yang menjadi puncak tujuan dari tasawufnya. Dengan menempuh jalan yang tidak biasa dikenal oleh sufi-sufi lainnya. Iqbal menyatakan bahwa puncak yang dituju oleh tasawufnya adalah insan al-kamil atau mardi’i khuda yaitu insan sebagai teman kerja Tuhan di muka bumi ini. Secara dialektis manusia mampu menyelesaikan ciptaan Tuhan yang belum selesai. Tuhanlah yang menciptakan bahan bakunya, sedangkan manusia yang mengelolanya menjadi barang-barang konsumtif.
Menurutnya, insan al-kamil adalah manusia yang telah mampu mengungkap dan membumikan sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya. Kendatipun demikian, kesadaran dirinya tidak luluh ke dalam kesadaran Tuhan, melainkan tetap mempunyai kesadaran yang utuh. Oleh karenanya ia mampu menjelaskan indikasi-indikasi kemampuannya secara analogis rasional. Dengan demikian corak tasawuf Iqbal adalah rasional transendental. Dan inilah yang membedakan dengan faham kaum panteisme yang menyatakan bahwa tujuan tertinggi dan ideal manusia adalah untuk melenyapkan dan meleburkan dirinya dengan yang mutlak. Dengan demikian akan menghapuskan kesatuan individualitasnya.
Dalam mengcounter paham panteisme di atas, Iqbal mengemukakan suatu pemikiran yang sering disebut dengan filsafat ego. Menurutnya, ego merupakan suatu realitas yang terang benderang. Secara langsung kita dapat melihat bahwa ego itu nyata dan berwujud. Ego dinilainya sebagai poros dari segala aktivitas dan perbuatan kita. Ego merupakan intisari wujud kepribadian kita yang hanya dapat dirasakan oleh naluri manusia. Pada hakekatnya ia sebagai suatu yang dapat memberikan tuntunan, bebas dan abadi. Ego berkembang menjadi suatu wujud pribadi yang kuat dan penuh dengan tujuan oleh cita-cita dan aspirasi-aspirasi yang menggambarkan suasana lingkungan. Oleh karenanya, ego pun bergantung pada suatu hubungan yang diciptakannya dengan benda nyata, masyarakat, dan kenyataan-kenyataan.
Dalam masalah politik dan kenengaraan, banyak juga gagasan-gagasan yang disumbangkan Iqbal. Pemikiran Iqbal mengenai negara misalnya, ia mengisyaratkan bahwa negara Islam merupakan suatu masyarakat yang keanggotaannya berdasarkan keyakinan agama (the relegious faith) yang sama, dan bertujuan untuk merealisasikan suatu kebebasan (freedom), persamaan (egality), dan persaudaraan (brotherhood). Dengan konsep seperti ini, ia menolak gagasan nasionalisme wilayah yang dianggapnya bertentangan dengan persaudaraan secara universal sebagaimana yang ditegakkan Rasulullah SAW.
Dalama kesempatan lain, ia juga menolak setiap pemahaman apa saja yang berkaitan dengan bangsa dan negara sebagai dasar masyarakat Islam. Nasionalisme menurut Iqbal, merupakan suatu alat yang bisa digunakan untuk memecah belah dunia muslim yang akan berakibat pada adanya pemisahan sesama manusia, terjadinya perpecahan antar bangsa-bangsa dan adanya pemisahan agama dari politik. Maka dari itu ia dalam bukunya “Political Thought in Islam”, menegaskan bahwa cita-cita politik Islam adalah terbentuknya suatu bangsa yang lahir dari suatu internalisasi semua ras dan kebangsaan. Terpadunya ikatan batin masyarakat ini, muncul tidak dari kesatuan geografis dan etnis. Akan tetapi dari kesatuan cita-cita politik dan agamanya. Keanggotaan atau kewarganegaraannya didasarkan atas suatu pernyataan kesatuan pendapat yang hanya berakhir apabila kondisi ini tidak berlaku lagi.
Secara geografis, pemerintahan Islam adalah trans-nasional yang meliputi seluruh dunia. Kendatipun demikian, setiap negara tidak perlu khawatir akan kehilangan kedaulatan negaranya masing-masing. Karena struktur negara Islam akan ditetapkan tidak dengan kekuatan fisik, akan tetapi dengan daya kekuatan spiritual dari suatu cita-cita bersama. Meskipun Iqbal telah mengabdikan sebagian besar pemikiran dan tulisannya untuk memahami tentang teori politik masyarakat Islam dan mengungkapkan semangat pan-Islam, namun ia menyadari bahwa zamannya masih mengharuskan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ada.

BAB III
KESIMPULAN
Menurut M. Iqbal, Islam pada hakekatnya menganjurkan dinamisme. Al-Qur’an senantiasa menganjurkan pemakaian akal di dalam menginterpretasikan ayat ataupun tanda yang ada dalam alam semesta, sebagaimana adanya rotasi bumi, matahari, dan bulan. Orang-orang yang tidak peduli dan tidak memperhatikan tanda-tanda tersebut akan buta terhadap masa yang akan datang. Konsep Islam tentang alam adalah dinamis dan senantiasa berkembang. Islam menolak konsep lama yang menyatakan bahwa alam itu statis, dan mempertahankan konsep dinamisme serta menengahi adanya gerak dan perubahan dalam kehidupan sosial. Prinsip yang dipakai dalam gerak tersebut adalah ijtihad. Ijtihad mempunyai kedudukan penting dalam pembaharuan Islam.

DAFTAR PUSTAKA
Httml. faham dinamisme islam/pemikiraan-muhammad-iqbal.com
Supriyadi, Dedi, 2009, Pengantar Filsafat Islam (Konsep, Filsuf dan Ajarannya),             Bandung: CV. Pustaka Setia
Soleh, Khudori, 2004, Wacana Baru Filsafat Islam, Yogyakrata: Pustaka Pelajar


[2] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam,Konsep, Filsuf dan Ajarannya, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009), hal   264
[3] Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2004) hal. 231

ALIRAN ILMU JIWA (PSIKOLOGI AGAMA)


MUNCULNYA ALIRAN ILMU JIWA
(PSIKOLOGI AGAMA)
“Aku telah menemukan rahasia alam semesta dan bertemu dengan arwah pendahulu ilmun sosial dan humaniora. Aku tuliskan diskusiku dengan mereka menjadi kitab sebagai proyek membangun masyarakat baru. Namun tidak tiska ada yang mengikuti jalanku. Aku menderita depereasi berat,sampai ada keinginan untuk bunuh diri. Disaat aku tenggelam dalam perasaan bersalah, aku terkejut mendengan suara ”jadilah pengobat”. Suara itu memberi panggilan hidup dan bangkit sembuh. Aku menimba ilmu di Pascasarjana Jurusan Psikologi, aku belajar pada Shaman dan Dukun India di Ojai.”
            David Lukoff dianggap sebagai ”One Of The Leader Of The New Spiritually Attuned Psikologi”. Dia dan rekannya berusaha memahami jiwa dengan peengalaman spiritual. Tahun 60-an psikosis dianggap perilaku mennyimppang, jiwa sama sekali tidak dibicarakan. Ada tanggapan yaitu “Pandangan Dunia” angkatan pertama psikologi: behaviorisme. Sampai sekitar 1970-an pandangan baku dalam psikiatri yang dianggap skizofrenia dan diakibatkan oleh pengalam masa kecil yang traumatis.
Bersangkutan dengan motif tak  sadar dan terutama seks, inilah angkatan kedua psikologis: psikoanalisis. 20 tahun berikutnya teori-teori psikoanalisis mulai ditinggalkan dan beralih  ke neurokimiawi. Namun pasien meenjadi teerabaikan dalam pengalaman spiritualnya. Sehingga kesembuhannya mengalami hambatan besar.
Suara protes banyak muncul dari para psikiater. Kata Laing, psiosis bukanlah ”breakdown/ kehancuran”, tetapi “breakthrough/ terobosan .” Laing adalah tokoh ankatan ketiga: psikologis humanisti eksistensial, kemudian bermetamorfosis melahirkan angkatan keempat: psikologi trangpersonal.
Perkembangan konsep spiritual dalam psikologis sebagai latar belakang kemunculan konsep kecerdasan (SQ).
BEHAVIORISME
            Inilah aliran ilmu jiwa yang tidak yang tidak peduli pada jiwa dan dimulai dari Pavlov pada akhir abad ke-19. Psikologi adalah sains dan sain hanya berhubungan dengan apa saja yang dapat diamati. Psikologi bukan merupakan ganggua kejiwaan, melainkanperilaku yang menyimpang (maladaptive beehavior) akibat pelaziman (conditioning) yang terus menerus.
            Tahun 1914 seorang mahasiswa Pavlov melaporkan kejadian yang aneh dan luar biasa. Dia telah melazimkan seekor anjing untuk mampu membedakan lingkaran dari elips. Hasilnya ajing tidak dapat membedakan keduanya. Perilaku anjing menjadi berubah menjadi pemberang dan galak, anjing menderita ”neurosis eksperiental” Manusia akan menderita penyakit yang sama bila dia berhadapan dengan situuasi sters yang tidak dapat diatasi. Untuk mengobatinya lakukan saja pelaziman yang baru  yaitu kontrapeelaziaman ”copunterconditional.”
            Perilaku maladtif juga terjadi karena pelaziman yang menimbulakan perasaan negatif, depresi, kecemasan, atau penderitaan. Manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk pasif yang tunduk pada lingkungan. Kini giliran behaviorisme dimodifikasi dalam bentuk psikologi kognitif. Metfora manusia tidak lagi mesin, pengolah informasi dan pemecah maslah namun memperhatikan, menafsirkan, mengolah dan menggunakan informasi.
            Behaviorisme dikritik keras karena, pertama, ia gagal memasukan data dari pengalaman subjektif idividu seperti kesadaran diri yang sangat berarti baginya; kedua, ia gagal menjelaskan dimensi perilaku manusia yang lebih kompleks, seperti cinta, keberanian, keimanan, harapan, dan putus asa; ketiga, ia gagal secara keseluruhan, memahami masalah nilai dan makna dalam eksistensi manusia. Keempat, ia gagal mengatasi masalah pengarahan diri.
Psikoanalisis (Depth Psycology)
            Ini mencari sebab-sebab perilaku manusia pada dinamika jauh pada dirinya, pada alam tak-sadarnya. Sigmun Freud adalah bapak mazab ini,  seorang neorolog yang hidup di Wina akhir abad ke-19. Freu menghipnotis pasiennya untuk mengilangkan gejala-gejala histerisnya dan mengembalikan memori yang terlupakan. Perilaku yang tampak atau tidak tampak disebabkan peristiwa mental sebelunnya.
            Pada masa kanak-kanak, kita dikendalikan sepenuhnya oleh id. Tahap ini berlaku proses berfikiryangdisebut Freud sebagai primary process. Anak tidak dapat membedakan antara yang real dan tidak real serta tidak mampu menekan implus. Jika anak tidak memperoleh botol susunya, dia akan menghisap ibu jarinya. Anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa, ego sudah berkembang. Mereka mengikuti berpikir proses kedua, secondary process thinking. Walaupun tidak memenuhi kebutuhannya. Orang dewasa sesekali berpikir proses pertama, Jika pola berpikir anak-anak ini menguasai orang dewasa terjadilah perilaku abnormal.
Kata Danah Zohar, lebih satu abad kemudian, proses pertama EQ, kedua, IQ dan proses ketiga, SQ. SQ inilah yang menghubungkan rasio dan emosi, pikiran dan tubuh. Super ego hanyalah menyerap nilai-nilai dari orang tua dan masyarakat, sedangkan SQ secara kreatif menciptakan nilai-nilai baru. Psikonoalisis klasik tampak sangat lemah, ia mampu menjelaskan penyakit psikis akibat luka lama dari masa kecil, tetapi bisu ketika menderita karena kekosongan eksistensial dan kebingungan memberikan makna. Menurut freud, tujuan psikoanalisis adalah mengurangi derita neurotis menjadi ketakbahagian yang biasa ”not a particularly inspiring or ennobling goal for human existence” (Cortright, 1997).
            Carl Gustav Jung kecewa dengan tujuan psikoanalisis dan mengecam Freud karena penekanan yang berlebihan pada seksualitas. Psikologi harus membantu manusia untuk menyambungkan dirinya dengan kedua alam tak sadar.Jung menyebut individuation sebagai pengintegrasian the collective unconscious dalam kesadaran individu. The collective unconscious dilanjutkan melalui arketipe (archetypes),bentuk dan cinta universal yang terdapat pada mitos dari berbagai kebudayaan. Sebagaimana insting mengatur tindakan sadar secara teratur dan seragam, arketipe mengatur anggapan sadar secara sistematis dan seragam.
”The colective unconscious membentuk arketipe (bentuk universal), psyche dan mengorganisasikan peengalaman psikologis. Kesehatan psikologis yaitu kemampuan memasukan arketipe memasuki dan memberikan bentuk pwngalaman psikologis dari pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Derita dan tekanan psikologis muncul karena hanya mampu menganilisis beberapa arketipe hingga dapat membatasi jati diri dan perasaan. Kekayaan pengalaman dari perasaan, kreatifitas, spontanitas kehidupan tidak dapat merasuk dalam dirinya. Pusat arketipe psyche adalah the self (diri).
Jung percaya the self diketahui diketahui secara tidak langsung, dengan pengarahan dan bimbingan melalui simbol mimpi dan citra. Ketika psyche mengalami individuasi bergerak, citra mitos, dan simbolis yang baru muncul pada ego. Reorganisasi terjadi pada ego sadar dan kedalaman artikepal.”
”Menuurut Jung, ego berkembang pada paro pertama dan mulai merasaterasingkan pada usia 35-45 tahun. Separo kehidupan kedua perhatian berpudat pada batin dan muncul hal baru pada paro kehidupan pertama. Akibat tidak mau mendengar gerakan batiniah akan berdampak pada psikis, kekosongan dan alienasi.” Pembagian kehidupan pada dua paro pagi dan petang. Tahap pertama, pre egoic yaitu masa pra oedipus ketika ego dikuasai the collective unconscious. Tahap kedua, pada pagi hari kehidupan, ego dewasa melepas diri. Tahap ketiga, pada sore hari kehidupan, ego kuat kembali ke the collective unconscious.
“Kehidupan spiritual itu kehidupan memilih jalan hidup yang melintasi konvensi-konvensi sosial, moral, religius, politis dan filosofis. ’Anak-anak yang sejati’ Tuhan adalah berani melanggar konvensi dan mengambil ’jalan curam dan sempit’ menuju dunia yang tak diketahui. Menurut Jung ini disebut ’vactory’ berpisah dengan kelompok dan mengorbankan siri untuk memenuhi ’panggilan’. Mentaati hukum dan mendengar bisikan ruhnya yang terdalam his inner spirit (Fuller,1994, h. 104).” Dia akan mengalami neeurosis dan terlambat perkembangan kesadarannya jika tidak mau mendengar suara batinnya.
Ferud menulis surat kepada Jung yang berkonsep sinkroniotisi,  dengan menyatakan bahwa pengalaman spiritual itu tidak penting. Jung malah menjadi populer dengan kehadiran psikolosi transpersonal.
PSIKOLOGI HUMANISTIS
            Ini muncul pada peertengahan abad ke-20, sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikonalisis. Karena dianggap manusia sebagai mesin (mahluk yang rendah). Perintisnyya adalah Abraham Maslow,”dengan sedikit menyederhanakan, kita dapat menyatakan bahwa Freud seakan-akan memasok kita dengan separo psikologi yang sedikit, dan kita sekarang harus mengisi dengan separo lainnya yang sehat” (Maslow 1968). Alih-alih dia meeneliti manusia yang sakit agar tetap termotifasi di dalam kehidupan, dalam situasi dan kondisi apapun. Pengalaman Viktor Frankl pada perang duni ke-2 di dalam kamp konsentrasi Nasi banyak pengalaman dan mendengar keluhan dari tahanan. ”Mengapa semua ini bisa terjadi padaku? Mengapa aku harus menanggung derita ini?”
Ada pula yang berpikir, ”Apa yang harus ku lakukan dalam situasi mencekam seperti ini?”. ini umumnya berakhir dengan kematian atau berhasil lolos dari lubang jarum kematian. Hal yang membedakan keduanya adalah kebebasan memilih makna. Frank menentang Freud ketiaka dia menganggap dimensi spiritual manusia sebagai percampuran dari insting hewani. Dengan landasan fenomenologis, Frankl membantah keduanya menjelaskan perilaku manusia akibat proses fisikis biasa dia mengembangkan teknik fsikoterapi yang di sebut logoterapi (logos = makna). Logoterapi memandang manusia sebagai keseluruhan dari tiga dimensi : fisik, fsikologis, dan spiritual.
”Dimensi spiritual di sebut Frank sebagai  NOOS, yang mengandung semua sifat manusia seperti keinginan, imajinasi, keimanan dll. Di dalamnya terkandung kekuatan untuk melangkah keluar dan memandang diri kita dan transendensi diri. Dalam dunia spirit kita adalah pemandu, pengambil keputusan. Reserfoir kesehatan ada pada setiap orang apapun agama dan keyakinannya. Ada beberapa teknik untuk mengungkap makna, tetapi ada lima situasi ketika makna terbesit di luar dan mengubah jalan hidup kitagar tersusun dengan baik lagi.
Pertama, makna kita temukan ketika kita menemukan diri kita (self discovery). Kedua, makna itu muncul ketika ketika kita menentukan pilihan. Ketiga, makna ditemukan ketika kita merasa istimewa, unik, dan tak tergantikan, oleh orang lain. Keempat, makna terbesit dalam tanggung jawab. Kelima, makna muncul ketika situasi transendensi/ pengalaman spiritual ”pengalaman yang membawa kita ke luar dunia fisik, kel luar pengalaman kita yang biasa keluar suka dan duka kita, ke konteks yang lebig luas”, penggabungan dari yang keempat.
Dengan cepat melewati Maslow, yang menyebut pengalaman ini sebagai peak experience atau plateau, kita meloncat pada angkatan keempat.
PSIKOLOGI TRANSPERSONAL
Menurut Maslow, pengalaman keagamaan adalah peak experience, plateau, dan farthest reaches of human nature, sehingga psikologi dianggap belum sempurna.
Dia menulis, “I should say also that consider Humanistic, Third Force Psycology, a transpersonal, dll. Ini hanya melanjutkan pemikiran Jung dan Frankl, yang berusha menggabungka tedisi psikologi dengan trasisi agama-agama besar di dunia.. William James mempengaruhi pemikiran Jung. Psikologi ini mengajarkanpraktik-praktik guna mengantarkan manusia pada kesadaran spiritual, diatas id, ego, dan superego Freud.
 Agama-agama membahas spiritual yang luas, psikologi belum memadai sampai hal seperti itu. Cortright (1997, h. 9) menulis, satu sisi atau sisitem keluarga, interaksi ibu-anak, dan pengalaman masa kecil pada sisi yang lain  tidak ada penjelasan apapun, yang memperhitungkan hanya peenampakan luar dari masalah nature (tabiat), dan nurture (lingkungan )dapat memberikan jawaban yang memuaskan padamasalah fundamental kehidupan. Hanya memandang ke dimensi spiritual, memasukan dan mentransendenkan warisan dan lingkungan, kita dapat menemukan jawaban yang tepat untuk masalah eksistensi manusia.”
Psikologi mulai mengarah ke dimensi spiritul manusia ketika buku Journal of T ranspersonal Pycology terbit 1969. Penelitian dilakukan untuk memahami gejala-gejala ruhaniah, seperti peak experience, pengalaman mistis, aktualaisasi transpersonal, pengalaman spiritual, seelanjutnya kecerdsan spiritual. Zohar mendedinisikan kecerdasan spiritual ”kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar. Inilah kecerdasan spiritual yang kita gunakan bukan hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, melainkan juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.”
Menurut Sinetar, ”Kecerdan spiritualpikiran yang mendapat inspirasi, dorongan efektifitas yang terinspirasi, the is-ness atau pengahayatan ketuhanan yang di dalamnya kita semua menjadi bagian”. Sementara menurut Khalil Khavari, ”ialah fakulatas dari dimensi nonmaterial kita (ruh manusia), sementara itu kemampuan spiritul perlu ditingkan ataun diasah”.